4 WEJANGAN NGEBLOG ALA SESEPUH WORDPRESS

laptop_handsJakartaNgeblog tak jarang hanya dilakukan sekadar aktivitas musiman bagi sejumlah blogger. Jika mood menulis datang blog tersebut bakal rajin dikelola, namun sebaliknya jika mood si pemilik blog meredup, aktivitas blog itu pun ikutan sunyi.

Hal inilah yang menjadi kendala terbesar para blogger untuk selalu exist di blogosfer. Nah, bagi yang tak ingin menjadi ‘blogger musiman’ ada baiknya menyimak wejangan dari perintis WordPress, Matt Mulleweg agar acara ngeblog Anda menjadi lebih asyik.

1. Fokus ke Passion
Dari sekian pengetahuan menggunung yang Anda ketahui, pasti ada satu atau dua topik yang benar-benar menjadi passion atau yang paling diminati. Cobalah untuk meramaikan halaman blog Anda dengan passion tersebut, mau itu bidang fotografi, teknologi, bisnis atau yang lainnya.

Pasalnya, menurut Mullenweg, dengan semakin seringnya Anda menuliskan topik tersebut, secara tak sadar Anda akan lebih mahir di bidang itu. “Sebab, Anda akan membicarakan dan meng-update pengetahuan mengenai hal itu setiap hari,” ujarnya.

2. Jangan Menutup Diri
Menulis di blog juga tak sekadar sharing pengetahuan. Sekadar sharing perasaan yang tengah Anda rasakan juga dapat melatih kemampuan ngeblog Anda. Sedikit narsis memang, tapi cobalah untuk melakukan hal ini, karena nantinya Anda akan terbiasa untuk berbagi di blog terhadap sesuatu yang Anda anggap menarik atau rasakan.

3. Kunjungi ‘Tetangga’
Dunia blog amatlah luas dan tak terhingga besarnya. Layaknya manusia yang hidup di dunia nyata, ‘kehidupan’ di dunia blog juga tak terlepas dari interaksi dengan blogger lain.

Dengan melakukan ‘jalan-jalan’ santai di blog orang lain, wawasan Anda pastinya juga akan diperkaya. Tak hanya dari sisi pengetahuan, namun Anda juga bisa mengintip gaya tulisan hingga desain blog orang lain yang bisa diadopsi di blog Anda.

4. Practice Makes Perfect
Melahirkan gaya tulisan yang bagus dan khas sesuai cita rasa Anda tentunya tak bisa didapat dalam waktu singkat. Hal ini harus diiringi dengan latihan sesering mungkin yang jika sudah rutin dilakukan akan membuat tulisan Anda terasah dengan sendirinya.

Agar latihan menulis ini tak dianggap sebagai beban, anggap saja aktivitas ngeblog sebagai ajang untuk mencurahkan isi hati. “Kalau sudah berjalan nanti akan terbiasa sendiri dan tak akan merasa seperti melakukan pekerjaan,” tandas Mullenweg

Disadur dari detiknet.com

http://www.detikinet.com/read/2009/01/19/142635/1070855/510/4-wejangan-ngeblog-ala-sesepuh-wordpress

Advertisements

Sejarah Israel-Palestina

map-king-david

Berikut adalah artikel yg coba saya dapatkan dari teman blogger, tp maaf saya ga bisa kasihkan link nya karena blog tersebut kayanya sudah dihapus.

Tanpa harus adanya rasa memihak golongan tertentu, alangkah lebih baik jika  saudara-saudara baca sendiri artikel di bawah ini.

Silahkan download link di bawah ini dgn format .pdf

sejarah-konflik-timur-tengah1

Selamat membacaking-david1

SEJARAH KONFLIK TIMUR TENGAH

I wish this people can make peace

I wish this people can make peace

Terlepas dari beberapa pendapat tentang mana yang benar dan yang salah, berikut saya coba postingkan tulisan yang saya sadur dari teman-teman blogger. Dari sini bisa kita tarik kesimpulan bahwa penulisan artikel akan suatu objek tentunya dipengaruhi oleh latar belakang penulisnya. Pendidikan, Agama, Politik, Ras/Suku atau bahkan lingkuan keseharian yang dihadapinya. Namun sangat disayangkan jika para pembaca terprofokasi untuk menilai (dalam arti mengumpat) akan objek yg ditulisnya tanpa melihat “siapa” penulis buku tersebut. Karena, masih banyak buku-buku atau bahkan artikel yang mencoba menyudutkan suatu pandangan tertentu tanpa melihat kebenaran yang sesungguhnya. Dan parahnya kita ‘endorse’ saja dalam arti setuju terhadap apa yg ditulisnya. Dan tidak salah jika mata penah sesungguhnya lebih tajam dari sebilah pedang.

Berikut salah satu tulisan dari seseorang yg kebetulan di postingkan di friendster terhadap isi buku “On the Hills of GOD” oleh Ibrahim Fawal

on-the-hill-of-god3Sebagai seorang Kristen yang dibesarkan dalam lingkungan Kristen AGAK Fundamentalis, awalnya dalam konflik Israel Palestina, gue memihak Israel. Mengapa? karena dalam Alkitab, yang disebut-sebut adalah Bangsa Israel bukan palestina, jadi gue berpendapat tanah yang diperebutkan itu adalah tanah Israel.

Akan tetapi, novel ini benar-benar mengubah pemikiran gue 180 derajat.

Fawal mengisahkan bahwa sebelum kedatangan kaum Zionis, umat Islam, Kristen, dan Yahudi hidup rukun dan damai di atas tanah Palestina. Ini diceritakan melalui persahabatan Yousif(Kristen), Amin(Islam), dan Isaac(Yahudi) di kota Ramallah. Mereka bersahabat dan saling menghormati satu sama lain. Sampai akhirnya kedatangan kaum Zionis yang menginvasi Palestina tahun 1948 menyebabkan orang Yahudi yang tak bersalah di Palestina mulai terpojokkan karena tindakan saudara mereka yang bernaung di bawah bendera Zionis. Akhirnya Isaac tak hanya terpisah dari kedua sahabatnya tetapi juga harus mati karena keserakahan kaum Zionis.

Novel ini membuka mata gue betapa orang Zionis, menurut gue, memanfaatkan momentum holocaust sebagai kendaraan untuk meraih simpati masyarakat internasional agar bisa tinggal di satu daerah yang diperuntukkan bagi kaum Yahudi, dan wilayah yang dipilih adalah wilayah yang notabene asal mereka yaitu Palestina. Tak peduli harus memakai jalur kekerasan, mereka dengan liar menginvasi tanah Palestina.

dapet, yaitu kita harus membedakan kaum Yahudi dengan kaum Zionis. Memang Zionis adalah organisasi politik Yahudi, tapi tidak semua orang Yahudi memiliki pemikiran dan hati nurani selicik dan sekeji kaum Zionis.

Buat orang yang ingin lebih memahami lagi tentang konflik Israel-Palestina, buku ini mungkin bisa anda jadikan referensi tambahan yang pastinya akan membuka mata dan hati anda…

SALAM!

Silahkan anda komentari sendiri…

Ini lho AKU …

Kadang kita merasa bisa mandiri tanpa menggantungkan orang lain jika kita punya kemampuan/kelebihan/kepintaran dibanding orang lain.

Dan parahnya, kecenderungan untuk merasa “lebih”, entah itu lebih pandai, entah itu lebih berpendidikan, lebih punya kedudukan/pangkat/posisi dan kelebihan-kelebihan lainya jika dibandingkan dgn orang sekitar kita. Dan justru inilah yg membuat kita sulit untuk diajak kerjasama dengan orang lain, yang kebetulan punya “kekurangan ” dibandingakan dengan kita. Sehingga muncul pemikiran : “Aku bisa kerja sendiri dan mampu tanpa mereka, dan kesukseskanku adalah usahaku, aku tidak butuh mereka yang hanya menghambat karirku saja. Aku gak butuh dia, gak pathek en“.

Tapi sebenarnya justru itulah pada awalnya TUHAN menciptakan manusia Adam tidak seorang diri, namun dibuatNYAlah seorang teman, manusia Hawa yang lain dari diri Adam. TUHAN pun tidak bisa “berkarya” seorang diri, (meski DIA sebenarnya dengan KE-MAHA MAMPUAN-NYA bisa melakukan apa yg dikehendakiNYA) maka diutusNYAlah para Nabi serta rasul2xNYA untuk membuat dunia ini semakin baik.

Nah bercermin dari sinilah kita mencoba memagnai misteri hidup bersama dengan sesama, saling membutuhkan satu sama lain, dan saling melengkapi satu sama lain dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Berikut ini, adalah slide singkat yang saya sadur dari seorang pakar motivator Gedhe Prama walaupun dengan sedikit penggabungan beberapa modifikasi. Harapan saya moga bermanfaat. itu aja.

“Holly War”

Daud V.S. Goliath

Daud V.S. Goliath

Wes jan… ora mari-mari. Perpetual Horror. Konflik Timur tengah tiada hentinya.

Kenapa masih saja konflik terus berkepanjangan. Tidak ada satu pun yang mengalah. Masing-masing berebut “kebenaran”. Warga sipil jadi korban, sementara pemimpin mereka “berkonspirasi” demi ego kekuasaan semu. Rakyat menderita, tidak perduli. Rakyat menjerit biarkanlah. Sementara rakyat sudah habis angannya. Kepasrahan tinggallah.

pucing dech...

pucing dech...

Dari sinilah kita semua diajak melihat dengan mata hati. Mata “mendhelik” cungkilah. S’bab dengan mata hati kita akan sangat ‘mengerti” dan peduli sekali akan penderitaan rakyat sipil. Tapa memihak. Tanpa terprofokasi. Tanpa panas hati.

Lihatlah balita ini. Tidak tahu apa yang “sebenarnya” terjadi. Tidak tahu tempat bermain yang aman bagi mereka. Yang mereka ketahui hanyalah bermain “petak umpet” bersama ibunya sudah merupakan bagian dari hidupnya sehari-hari. Pindah dari tempat persembunyian satu ke tempat persembunyian lainnya. Sementara ayah mereka tidak tahu entah kemana. “Mengumpet” terus selamanya dan tidak muncul-muncul lagi.

Saudaraku terkasih…

Masihkan kita semua beropini ini…

Masihkah kita semua beropini itu…

Sementara mereka butuh “kepedulian” nyata bukan sekedar angan dan wicara serta air mata. Buanglah jauh-jauh perasan mencemooh :

“BANGSAT!!!”

“TIDAK BERPERIKEMANUSIAAN!!!”

“DASAR BANGSA LICIK!!!”

“SAK KAREPE DHEWE!!!”

TAHANLAH Jyhad yang justru menambah penderitaan bagi keluarga serta anak-anak kita. TAHANLAH memprofokasi sesama kita untuk semakin anti akan bangsa itu. Karena kita sebenarnya tidak mengetahui permasalahan sesungguhnya antara ke-dua bangsa bertikai tsb. Namun berJYHADlah dengan do’a. Karena hanya melalui do’a lah yang bisa kita lakukan. Semoga pemimpin bangsa kedua belah pihak MAU menjalin hubungan baik. Semoga pemimpin bangsa kedua pihak MULAI peduli dengan rakyatnya. AMIN

Let's Start Making Peace

Let's Start Making Peace