Wanita yang dicintai suamiku …

male+female

male+female

Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan kiriman email dari seorang teman. Tadinya saya pikir ini email apaan kok begitu panjang seperti sebuah cerpen. Saya pun enggan membacanya, karena kesibukan lainya.  Saya yakin pembaca pun demikian jika menerima email yang terlalu panjang, pasti agak malas membacanya.

Namun semakin saya abaikan, saya jadi penasaran ingin membacanya couplesetelah itu.  Apalagi dengan judul yang menggoda selera untuk ‘mengeksplorasinya’ (biasa sifat lelaki). Singkat cerita tanpa disadari, emosi kelaki-lakian saya pudar, saya terhanyut dan tersentuh dengan cerita tsb. Bukan karena kisah yg menyedihkan, bukan pula cerita yang romantis. Namun dibalik itu semua, saya ambil hikmah nya. Ternyata “cinta” itu tidak bisa dipaksakan (possesive), “cinta” itu tidak selalu menuntut ini dan itu, dan “cinta” itu bukanlah sisi romantis saja. Atau “susana” yang indah melulu. Tapi cinta butuh pengorbanan, mau mengerti dan selalu peduli, bukan sebaliknya. Walaupun sulit rasanya untuk melakukannya. Rasanya mudah untuk diucapkan dan hanya angan dalam wicara namun sia-sia dalam perbuatan. Itulah kita. Saya sendiri pun demikian. Namun tak ada salahnya kalau kita belajar dari cerita ini. Tak ada salahnya untuk merubah “perbuatan cinta” kita yang “salah” selama ini terhadap pasangan kita, atau sekeliling kita.

Tanpa banyak basah-basih lagi, silahkan baca sendiri di link berikut. ‘Moga bermanfaat.

cinta-belakangan

Chocolate - Strawberry

Chocolate - Strawberry